JAKARTA,
KOMPAS.com - Bambang Pamungkas yang sudah berusia 32 tahun, mulai menatap
karier pelatih. Sebelum akhirnya gantung kasut, Bepe cuba sedikit bernostalgia
tentang masa lalunya, juga menatap masa depannya. Di hadapan para wartawan dan pelatih
muda yang ikut dalam perlawanan Liga Kompas Gramedia (LKG) U-14, Minggu (6/1)
di Lapangan C Senayan, kisah itu pun didedahkan. Ini wawancara dengan Bepe,
sapaan akrabnya.
Kamu diarah
menjadi brand ambassdor LKG U-14. Apa erti status itu buat Anda?
“Aku selalu
menikmati jika membicarakan pembinaan usia muda. Aku pernah merasakan mimpi
yang sama seperti pemain di LKG saat ini. Semoga dengan kehadiranku,
pemain-pemain di LKG bisa mewujudkan mimpinya menjadi pemain bola sepak
profesional. Ketika mereka mencapai hal itu, aku akan sangat bahagia.”
Bagaimana
kamu melihat bola sepak dari kacamata saat ini. Masihkah mempunyai hasrat yang
sama seperti ketika pertama kali menjadi pemain profesional?
“Jujur saja, aku
lebih seronok bermain bola sepak 10 hingga 15 tahun yang lalu. Kerana dulu aku
melakukannya atas dasar hobi. Jadi, aku semangat berlatih dan ingin tahu segala
hal. Sekarang berbeza. Tidak terlalu menyenangkan. Pasalnya saat ini semua yang
ingin diketahui sudah aku dapatkan jawapannya.”
Usiamu sudah
32 tahun. Masa bersara sudah di depan mata. Apa rencanamu ketika tak lagi
menjadi pemain bola?
“Aku ingin
menjadi pelatih. Keinginan terbesar tentu menjadi jurulatih TIMNAS. Ketika saat
itu tiba, aku ingin mempersembahkan gelaran juara. Ini sebagai bentuk kekesalan
aku kerana ketika masih bermain, aku tak pernah juara bersama timnas.”
Menjadi
jurulatih TIMNAS tidaklah mudah. Selain itu di Malaysia. Gagal sedikit, peluang
dipecat sangat besar. Apakah kamu menyedari hal itu?
“Tentu. Aku
sudah menyedari hal itu sejak lama. Bayangkan saja, dari 13 tahun kebersamaanku
di TIMNAS, sudah 10 kali kerusi jurulatih berganti. Bandingkan dengan
Singapura. Sejak 2003, jurulatih tak pernah tukar, terus dipegang oleh Radjoko
Avramovic. Fenomena di Malaysia tidaklah bagus. Jurulatih harus diberi
kepercayaan. Pelatih memerlukan kepercayaan dan proses hingga mencapai
prestasi.”
- Kompas
RSS Feed
Twitter
Facebook
0 comments:
Post a Comment